PEREMPUAN BERPOLITIK, WHY NOT?

Prediksi Naisbitt tentang kiprah perempuan yang akan semakin menonjol pada abad 21 sedikit banyak telah menjadi kenyataan, meski statemennya harus dikritisi lagi, terutama oleh kalangan muslimah. Perempuan maju,menurut Naisbitt, adalah perempuan yang lebih berani tampil tanpa dihambat oleh berbagai macam aturan agama.

Islam, sebagai agama paripurna telah meletakkan ukuran-ukuran yang tepat bagi segala ruang dan waktu kehidupan manusia. Titik pentingnya adalah keseimbangan dalam penepatan ukuran-ukuran tersebut. Realitas adanya laki-laki dan perempuan adalah suatu sunnatullah keseimbangan,dimana kedua jenis makhluk Allah tersebut bisa saling melengkapi dan bekerja sama secara proporsional pada segala medan kehidupan.

Politik, sebagaimana juga bidang kehidupan lainnya –ekonomi, social, budaya, dsb- merupakan kelengkapan ajaran Islam yang tak boleh ditinggalkan oleh setiap muslim dan muslimah. Tak dikenal dikhotomi dalam Islam bahwa politik sekedar urusan dunia sehingga berkonotasi kotor, sedangkan agama itu sekedar urusan akhirat yang berkonotasi bersih.

Namun, fenomena sekularisasi habis-habisan dalam berbagai bidang, termasuk politik, sebagian masyarakat muslim menolak berpolitik karena dianggap bukan kawasan Islami, sebagian lain memarginalkan peran politik perempuan karena dianggap wilayah terlarang dan terlalu keras yang hanya layak dimasuki laki-laki.

jika kita perhatikan nash-nash Al Qur’an maupun As Sunnah, tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa perempuan tidak memiliki peran dan hak-hak social maupun politik. Perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama dihadapan Allah, yang membedakan hanyalah kualitas taqwa masing-masing. Bahkan sejarah mencatat , generasi keemasan Islam telah meletakkan kaum perempuan pada posisi yang sangat terhormat.

Untuk memahami peran politik perempuan, pada awalnya bisa dilihat dari penghargaan Islam kepada kaum perempuan yang tampak nyata pada realitas penerapan ajaran dan sejarah kaum muslimin sejak generasi pertama. Orang pertama yang mengimani kerasulan Muhammad saw adalah khadijah, orang pertama yang gugur dalam membela kebenaran aqidahnya adalah Sumayyah. Islam menetapkan penghormatan 3 kali kepada ibu, baru kemudian kepada ayah. Bahkan surga tidak diberikan di bawah telapak kaki kaum lelaki, tetapi di bawah telapak kaum ibu.

Di era modernitas yang rumit sekarang ini, kita saksikan banyak sikap-sikap yang ekstrim. Satu pihak sangat ekstrim melecehkan norma-norma Illahiyah, pihak lainnya ekstrim kaku dalam memahami nilai-nilai ajaran Islam. Demikian juga ketika memahami peran perempuan, kita saksikan satu pihak cenderung memberikan kebebasan tanpa batas dengan mengatasnamakan kemajuan pemikiran Islam, sedang pihak lainnya mengekang peran perempuan di luar rumah denganmengatasnamakan menjaga kemurnian ajaran Islam.

Disinilah pentingnya kita meletakkan ukuran secara tepat, menjauhkan sikap ekstrimitas dalam berislam, sehingga akan tetap terjaga orisinalitas misi islam sebagai rahmatan lil alamin.

Partai merupakan salah satu bentuk aktivitas politik. Dalam tinjauan syar’I, baik laki-laki maupu perempuan tak ada larangan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam partai politik. Di jaman kepartaian saat ini, akhirnya kita memerlukan rambu-rambu moral kepartaian agar kita tidak terjebak dalam logika umum perpolitikan saat ini , bahwa politik hanyalah sarana untuk mencapai kekuasaan semata, yang akhirnya menghalalkan segala cara, baik pribadi maupun kolektif untuk mengokohkan partainya di masyarakat. Adapun rambu-rambu moral yang harus diperhatikan dalam aktivitas politik adalah: (1) mendasari kegiatan politik pada moralitas ibadah; (2) memperluas jaringan kerja dakwah; (3) melakukan pendidikan dan pemberdayaan politik masyarakat; (4) melakukan proses regenerasi; (5) bersungguh-sungguh membela hak umat.

Khusus untuk peran politik perempuan, akan kita dapati beberapa fakta keterlibatan perempuan dalam bidang social dan politik, yang bisa kita jadikan landasan dalam memahami fikih politik perempuan kontemporer.

Ada 15 perempuan yang terlibat secara aktif dalam perang khaibar, dan bahkan menurut Imam Ahmad Nabi saw juga membagikan ghanimah pada mereka. Sebagaimana kita tahu peperangan adalah salah satu bentuk partisipasi politik dalam urusan kedaulatan Negara. Untuk menegakkan supremasi daulah, Rasulullah saw ternyata tidak menolak keterlibatan para muslimah dalam berbagai peperangan, untuk berbagai peran yang mungkin mereka lakukan. (Ingat, dalam perang hunain, ummu sulaim membawa pisau. Di perang uhud, rasulullah menyaksikan ummu imarah berperang melindunginya)

Dalam baiat aqabah kedua, yang menurut Syaikh Munir Muhammad Ghadban dalam kitabnya Al Manhaj al haraki lis Sirah Nabawiyah merupakan persiapan pembentukan Negara, dari 75 sahabat yang berbaiah, dua orang adalah perempuan (Ummu Imarah binti Ka’ab dan Asma’ binti Amr bin adi). Atau kita juga bisa membaca dalam QS Al Mumtahanah (60):1-2. Baiat adalah manifesto kesetiaan kepada kepala Negara, dengan demikian dianggap sebagai perwujudan partisipasi politik perempuan dalam urusan kenegaraan.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menggambarkan betapa Islam tidak pernah menomorduakan perempuan dan menganggap sepele kedudukannya.
Tentu saja tetap ada pedoman syar’I tatkala perempuan muslimah ingin memasuki sektor publik, yaitu:
1. Kesadaran dan partisipasi social politik (At taubah : 71)
2. Fardhu kifayah bidang social politik
a. Setiap tugas yang wajib dilaksanakan guna menjamin penguasa berbuat benar dan adil — diperlukan kerjasama laki-laki dan perempuan agar tugas ini terwujud.
b. Bergabung dalam partai atau orsospol yang bersih dan menginginkan kesejahteraan ummat, membantu pihak penguasa melakukan perbaikan yang bersifat menyeluruh berdasar prinsip islam di satu sisi dan menguasai ilmu-ilmu modern lainnya di sisi lain.
c. Membudayakan kesadaran berpolitik di kalangan perempuan
d. Bertugas mengatur dan melaksanakan kegiatan pemilu yang jujur dan bersih.
3. Pendidikan social dan politik

Tentu saja tatkala perempuan harus berperan di dunia publik, ketika tuntutan peran mengharuskannya berinteraksi dengan laki-laki, etika pergaulan Islami haruslah tetap dijaga. Adanya keseriusan agenda interaksi, menutup aurat, menjaga pandangan, menghindari khalwat, menjauhi perbuatan dosa, dll adalah etika yng tak boleh ditinggalkan.

Dan yang tak kalah penting bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas kaum muslimah, sehingga kita bisa lebih berperan nyata dalam upaya perbaikan-perbaikan ummat.

Categories: Sejarah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: